Lebaran di Balangan
Bus sarat muatan. Di celah antara sisi kiri dan kanan kursi, penumpang duduk di bangku tambahan. Dari depan sampai belakang, penuh manusia dan barang bawaan. Ini penghujung Ramadhan. Ini waktunya mudik. Sebagian orang tentu tetap berpuasa. Beberapa yang lain, terlihat makan-minum di dalam bus. Satu-dua orang mengepulkan asap dari mulut, termasuk saya.
Bus masuk gerbang Pelabuhan Penyeberangan Kariangau sekitar 30 menit kemudian. Pelabuhan ini sebenarnya merupakan teluk. Teluk Kariangau namanya. Sebagian orang memilih lewat teluk ini kalau hendak menuju Kabupaten-kabupaten Penajam Paser Utara [PPU], Paser dan Kalimantan Selatan.
[Dari sini, orang bisa memilih menggunakan feri atau speedboat. Dengan feri perlu sekitar 2,5 jam. Dengan speedboat, waktu tempuh penyeberangan bisa dipersingkat hingga kira-kira sepertiga kali waktu menyeberang dengan feri].
Alasan lain, melalui Kariangau relatif lebih nyaman ketimbang harus melewati Petung -jalur berhutan yang menghubungkan Samboja [Kutai Kartanegara] dengan PPU. Di Petung, sebagian jalan masih dalam kondisi rusak dan alurnya melingkar.
Di Kariangau, bus tak langsung masuk feri. Kendaraan-kendaraan pribadi lebih didahulukan menyeberang. Menjelang lebaran, antrean di pelabuhan ini bisa makan waktu sampai 3 jam.
[Sambil menunggu giliran bus masuk feri, saya menyempatkan diri mengirim pesan singkat buat Bos: "selamat lebaran, bos. saya mudik ke kalsel." Dia membalas, "selamat lebaran. salam gasan bubuhan banjar." Dulu saya sering SMS orang ini. Tapi karena balasannya saya rasa lebih sering "bikin snewen", saya mulai menjarangkan kontak. Kalau tak terlalu perlu, saya memilih tidak tak menghubunginya. Dia orang sibuk.]
Di atas feri, ada seorang penjual barang kelontong yang saya pikir cukup kreatif dalam menawarkan barang dagangannya. Mula-mula lelaki itu mempraktikkan cara mengenakan baju pelampung. Saya sampai berpikir bahwa orang ini adalah pekerja kapal yang sedang bertugas layaknya pramugari sebuah maskapai penerbangan. Dia mengenakan baju berwarna biru muda dan celana biru tua. Detail sekali dia memberikan penjelasan. Dia juga mempersilakan penumpang untuk bertanya apabila ada hal-hal yang belum jelas.
Tapi ternyata bukan hanya lifebuoy yang dia presentasikan. Lelaki ini menawarkan bantal isi udara (pneumatic pillow) seharga 10 ribu rupiah, pisau multifungsi sampai sempritan yang bisa mengeluarkan suara mirip kicau burung. Usahanya tak percuma. Beberapa orang menyambut gayung promosinya.
DENGAN bus antarprovinsi, perjalanan dari Balikpapan menuju Balangan butuh waktu setidaknya 10 jam. Balikpapan di Kalimantan Timur, Balangan di Kalimantan Selatan. Beberapa kabupaten akan dilalui: PPU, Paser [Kalimantan Timur] dan Tabalong [Kalimantan Selatan].
PPU adalah kabupaten yang masih relatif muda. Sebelum mengalami pemekaran wilayah, PPU merupakan bagian dari kabupaten Paser. Tak ada pemandangan menarik di sepanjang jalan di PPU, selain deretan rumah-rumah kayu yang dibelakangnya kebun-kebun dan ladang-ladang yang masih luas terhampar.
[Sekitar satu setengah tahun lalu saya pernah menempuh jalan ini dengan sepeda motor ketika hendak menuju Paser untuk sebuah urusan. Pagi-pagi, di tepi jalan di Kecamatan Penajam, saya melihat seekor anak babi hutan mati entah ketabrak kendaraan jenis apa].
Beberapa bukit dipangkas hutan digunduli untuk keperluan pembangunan bangunan-bangunan kantor pemerintahan, perumahan dan pertokoan.
Lepas dari PPU, masuk wilayah Kabupaten Paser. Di sini perjalanan melintasi kecamatan-kecamatan Long Ikis, Long Kali, Kuaro sebelum kemudian berbelok melewati Batu Kajang dan Muara Komam. Selain rumah-rumah penduduk, akan terlihat perkebunan kelapa sawit, kebun, ladang dan hutan yang telah binasa. Beberapa bagian jalan di Muara Komam rusak berat, berlubang-lubang. Jalanan yang rusak itu pun sebenarnya tak cukup lebar untuk ukuran jalan penghubung antarprovinsi -hanya sekitar 4 meter.
MASUK wilayah Kalimantan Selatan, mula-mula adalah Kabupaten Tabalong. Jalanan sempit, rusak dan berdebu sepertinya menjadi cirikhas wilayah perbatasan provinsi ini. Di kanan kiri jalan, padang-padang rumput yang kering bercampur hutan yang tak lagi padat, barisan permukiman yang kadang jarang kadang renggang. Itu yang saya ketahui ketika dulu melewati jalanan ini pada siang hari. Karena perjalanan kali ini berlangsung pada malam hari, tak banyak yang bisa saya lihat.
Tanjung adalah ibukota Kabupaten Tabalong. Titek Puspa lahir di sini. Di Tabalong, pertokoan yang ramai hanya akan dijumpai di Tanjung. Di sini juga terdapat perusahaan pertambangan besar, PAMA Distrik Adaro. Belakangan perusahaan ini ramai menuai kritik karena kurang memperhatikan persoalan lingkungan yang ditimbulkan akibat kegiatan operasinya.
Sejam dari Tanjung, kami sampai di Balangan. Hampir tengah malam. Bus berhenti di dekat tugu bambu runcing. Ini pusat kota, tapi tak ada keramaian yang berarti. Pusat perbelanjaan terbesar di Balangan adalah pasar berlantai tiga, Pasar Paringin. Sentralnya Balangan, ya Paringin ini.
BALANGAN merupakan daerah asal isteri saya. Lebaran kali ini -demikian juga 3 lebaran sebelumnya- saya memang tak pulang kampung [ke Magelang, Jawa Tengah]. Dari Pasar Paringin ke rumah isteri saya masih perlu menempuh perjalanan sejauh 8 kilometer. Jalanan yang mesti kami lalui memang sudah diaspal, tapi beberapa ruas masih saja sarat lubang. Jalan ini juga menghubungkan antara pusat Kabupaten Balangan dengan beberapa kecamatan di daerah pelosok, seperti Kecamatan Juai dan Kecamatan Halong. Halong adalah permukiman orang-orang Dayak Meratus.
[Dulu kami menikah di sini. Di KUA Paringin nama kami resmi tercatat sebagai pasangan suami-isteri. Dari rumah isteri, kami naik angkutan pedesaan menuju kantor KUA. Kami berjejal dengan belasan penumpang lain yang hendak pergi ke pasar. Ketika itu hari Senin, hari pasaran, orang ramai pergi ke Pasar Paringin. Saya mengenakan baju koko, isteri saya memakai kerudung. Kami didampingi ayah isteri saya dan pamannya sebagai wali. Dari pihak keluarga saya, ayah dan paman tidak jadi datang].
MULANYA Balangan merupakan bagian dari Kabupaten Hulu Sungai Utara. Semenjak 2002, berdiri menjadi kabupaten sendiri. Kantor Bupati, kantor DPRD dan beberapa bangunan pemerintahan lainnya belum sempurna dibangun. Bangunan-bangunan itu didirikan di atas lahan bukit dan hutan yang dipangkas.
[Paran adalah nama desa di mana mertua saya tinggal. Paran bagian dari kecamatan Paringin. Dari arah Pasar Paringin menuju Paran, perlu melewati beberapa desa lagi. Pohon-pohon karet menjadi pagar beberapa bagian jalan. Gambarannya kira-kira begini: desa - kebun karet - desa - kebun karet, demikian seterusnya. Bertani karet memang pekerjaan sebagian warga di sini, termasuk mertua saya dan keluarganya.
Paringin dilalui oleh Sungai Balangan. Isteri saya dan saudara-saudaranya mandi di sungai itu. Tapi saya belum pernah. Saya malu, ada panu di punggung saya].
ADATNYA lebaran, saya dan isteri mengunjungi sanak-kerabatnya. Kue apem menjadi suguhan "wajib" ketika bersilaturahmi. Ada apem manis dengan warna-warna coklat dan merah muda. Apem putih yang tawar dihidangkan dengan air gula merah. Yang juga menjadi cirikhas pada rumah-rumah orang Suku Banjar adalah poster kyai -yang oleh sebagian orang dianggap sebagai wali. Konon, memasang poster wali akan mendatangkan berkah bagi si empunya rumah.
Saya pastikan, semua rumah yang kami kunjungi memasang poster-poster semacam itu. Salah satu kyai yang cukup populer adalah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Ghani Al Banjari dari Martapura. Pada gambar, beliau selalu mengenakan sorban warna putih dipadu dengan syal hijau. Jenggot cukup lebat menghiasi dagunya.
Saya berajangsana bukan hanya di Desa Paran, melainkan sampai ke desa-desa lain di luar Kecamatan Paringin. Saya ingat sebuah desa bernama "Hujan Mas" di Kecamatan Lampihong.
Saya shalat Ied pada hari Senin, 23 Oktober. Hanya beberapa belas orang saja yang memilih berlebaran pada hari itu. Saya shalat bukan di lapangan, melainkan di sebuah masjid kecil berukuran kira-kira 7 kali 15 meter. Masjid itu berbentuk panggung, terbuat dari kayu, termasuk lantainya yang dilapis karpet plastik. Pada mimbar, bertumpuk rangkaian bunga mirip sesaji. Rangkaian bunga itu telah mengering.
Usai shalat Ied, saya diajak isteri ke makam neneknya di belakang rumah. Di situ ada beberapa buah nisan dari batu dan kayu. Sebagian sudah lapuk. Isteri saya membaca Surat Yasin untuk almarhum neneknya.
[Kalau saya memberitahu apa yang dilakukan isteri saya ini pada ayah dan ibu saya, pasti mereka bakal tertawa. Sejak dulu ayah saya selalu bilang, tindakan seperti itu termasuk bid'ah. Dan bid'ah adalah dosa besar karena sesat. Ayah memang aktivis Muhammadiyah]. Saya berjongkok sambil merokok, menemani isteri yang sedang "mengirim pahala" untuk neneknya di alam kubur sana.
Rumah-rumah penduduk umumnya berbentuk panggung. Tinggi tiangnya kira-kira antara 20 - 40 sentimeter. Ada yang lebih tinggi, tapi sangat jarang. Kecenderungan yang terlihat beberapa tahun belakangan, orang membangun teras rumah bukan dengan model panggung, melainkan disemen, dilengkapi keramik, menempel pada permukaan tanah. Tapi itu hanya pada bagian teras. Di bagian belakang, kebanyakan masih tetap dengan tiang penyangga.
SALAH satu tradisi warga Balangan pada saat lebaran adalah berziarah ke makam Datuk Kandang Haji yang terdapat di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Juai. Saya datang ke tempat ini Selasa, 24 Oktober. Pemakaman ini sepertinya lebih tepat disebut tempat wisata musiman -hanya dikunjungi banyak orang pada hari pertama dan kedua lebaran.
Muda-mudi, tua-muda, laki-perempuan memenuhi jalanan dan sekitar makam. Ada pedagang bakso, es, buah sampai kalung, gelang dan cincin "jimat" serta buku-buku doa. Juru kunci makam menjual "air berkah" tanpa mematok harga. Konon, dengan meminum air putih mentah itu orang akan tercerahkan pikirannya. Seorang bapak mengeluarkan "wakaf" seribu rupiah untuk sekantung plastik air berkah tersebut. "Untuk penerang hati", katanya.
Dari Teluk Bayur, perjalanan berlanjut ke Halong, sekitar 25 kilometer ke arah Pegunungan Meratus. Di sana, saya memesan mandau berikut anak mandau dan perisainya kepada seorang perajin. Harganya cukup mahal buat saya, 750 ribu rupiah. Itu pun bukan langsung jadi, melainkan mesti menunggu selama hampir sebulan untuk menyelesaikannya. Pikir saya, tak apalah, biar nanti tugas mertua saya untuk mengambilnya dan mengirimkannya ke Samarinda melalui pos.
SAYA menyempatkan diri berjalan-jalan hingga keluar Balangan, sampai ke wilayah Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Di sana, tepatnya di terminal Pantai Hambawang, saya membeli tiket bus untuk pulang ke Kalimantan Timur. Di terminal Balangan tak ada agen bus tujuan luar provinsi.
Hulu Sungai Tengah lebih ramai ketimbang Balangan. Di sini deretan pertokoan, permukiman padat dan tempat-tempat keramaian lebih mudah dijumpai. Terminal Hambawang rapi dan bersih, Pasar Barabai tertib dan tidak kumuh.
Ada sesuatu yang belum pernah saya jumpai di mana pun di muka bumi ini: di Jalan Pasar Keramat dan Jalan Ir. PHM. Noor, neon box bertuliskan asmaul husna berderet menerangi jalan di malam hari. Apakah di NAD -provinsi yang dikenal sebagai Serambi Makkah- ada hiasan jalan macam begini?
SEMINGGU lamanya saya berada di Balangan. Tak ada oleh-oleh untuk beberapa kawan di Samarinda, Tenggarong dan Balikpapan, selain beberapa bungkus dodol Kandangan yang legit itu. Tapi, saya merasa beruntung menikah dengan perempuan berbeda suku. Saya mendapat pengetahuan dan pengalaman lebih yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

