...::: Eagle Flies Alone :::...

...:: saya lanjutkan petualangan blog-blogan ini ke: http://sahrudin.wordpress.com/ ::...

My Photo
Name: Sahrudin
Location: Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia

"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Di provinsi ini, saya pendatang belaka. Asal Magelang [Jawa Tengah], merantau ke Jogja, Bali, Bandung, lalu menyeberang ke pulau sejuta misteri ini: Kalimantan. Saya tertarik pada model atap dan bangunan Kalimantan Timur. Saya pun kagum akan berbagai karya seni yang dihasilkan para perajin dari daerah ini. Arsitektur, seni pahat, manik-manik, anyam rotan, serta bentuk seni rupa lainnya. Semoga, tak ada kata "sia-sia". Terima kasih, Banua Etam. Dari seorang gelandangan-pendatang: Sahrudin.

Friday, April 21, 2006

Pampang # 21 (SMPN 30)




Keranjang bola basket itu telah tidak ada lagi. Tiang yang terbuat dari kayu sudah lapuk sebagian. Separuh catnya pudar, separuh yang lain luntur. Bolanya, entah ke mana. “Guru olahraganya sudah pindah ke sekolah lain”, ujar Ahim Ndjuk, S.Pd., wakil Kepala Sekolah SMPN 30 Samarinda.

Selain tidak memiliki tenaga pengajar olahraga, SMP yang berada di antara lapangan sepakbola dan Pemakaman Kristen Dayak Kenyah, Pampang ini tak lagi punya guru kesenian. “Kalau belajar menari, anak-anak bergabung di Lamin”, imbuh Ahim. Akibatnya, jadwal menari seringkali bertabrakan dengan pelajaran di sekolah, terutama bila ada kabar rencana sekelompok wisatawan yang akan mengunjungi Lamin. Lelaki yang telah tujuh tahun mengajar di sekolah ini tampaknya keberatan anak-anak didiknya meninggalkan pelajaran untuk menari. ”Mereka pasti ijin jika ada jadwal menari.” Lanjutnya,”Kadang saya bilang ke mereka, mana lebih penting, menari atau sekolah.”

Meski demikian, prestasi di bidang olahraga dan kesenian sebagian siswa sekolah ini bisa dibanggakan. Tahun lalu, mereka meraih Juara I Kejuaraan Bola Voli Putra dalam rangka memperingati ulang tahun sebuah SMK Swasta di Samarinda. Juara I Lomba Pesta Permainan Tradisional Anak se Kota Samarinda, serta Juara I Tari Tradisional “Ekspresi Pelajar 2005” Tingkat SLTP. Belasan tropi berjejer rapi di atas almari di ruang utama SMP 30. Mengingat keterbatasan fasilitas olahraga dan kesenian, harap dimaklumi bila gelar juara yang diraih baru sebatas level kota. Siswa-siswi SMPN 30 juga membuat hasta karya berupa caping Dayak dan kerajinan manik-manik.

Sebaiknya jangan dulu menanyakan prestasi siswa-siswi SMPN 30 dalam ajang olimpiade fisika, kimia, biologi maupun matematika yang marak diselenggarakan beberapa tahun belakangan. “Harta” laboratorium sekolah ini hanyalah patung peraga anatomi dan kerangka manusia. Tak ada mikroskop sebagaimana umumnya dimiliki SLTP di kota. Isi perpustakaan tidak lebih dari 45 judul buku yang tertata dalam sebuah rak bertingkat lima. “Kalau gurunya sedang tidak ada, saya menyuruh anak-anak ke perpustakaan”, Ahim menjelaskan.

Tahun ini, siswa-siswi SMPN 30 berjumlah 65 orang. Rinciannya, kelas I sebanyak 22 orang, kelas II 19 orang dan kelas III 24 orang. Beberapa tahun sebelumnya, sekolah yang berdiri tahun 1997 memiliki lebih banyak siswa-siswi. "Sudah ada SMP baru di luar sana", ujar Ahim menyebut nama sebuah dusun di wilayah Kelurahan Sei Siring, tak jauh dari Pampang. Kini, sebagian besar siswa-siswi SMPN 30 adalah warga Pampang.
Sekolah ini menyediakan kebun seluas satu hektar sebagai sarana praktikum siswa-siswinya. Wilda, seorang siswi kelas I, bersama kawan-kawan sekelasnya menanam kacang panjang. “Kalau sedang istirahat atau tidak ada pelajaran, saya ke kebun ini.” Siswi berambut panjang ini juga menari di Lamin.

Semangat belajar sebagian warga Pampang bukan rendah. Sebuah ruangan di SMPN 30 dimanfaatkan untuk kegiatan belajar-mengajar (Kejar) Paket C. “Pengajarnya juga dari sini”, tutur Ahim. Motivasi kebanyakan peserta, ingin mendapatkan ijasah dan mencari pekerjaan di luar Pampang. Tak hanya belajar, para peserta juga ditugasi membuat bibit beberapa jenis tanaman dalam kantung-kantung plastik. Dananya, dari masing-masing peserta. “Peserta Kejar Paket C menyediakan bibit, para siswa yang menanam dan merawatnya.”

Tidak berbeda dengan nasib beberapa sekolah di Samarinda, banjir menjadi musibah "biasa" setelah turun hujan. Mujur, air tak sampai merendam inventaris sekolah seperti bangku dan meja, buku serta beberapa perlengkapan lainnya. Namun "jembatan" antarruangan mutlak diperlukan demi menjaga kelancaran aktivitas belajar-mengajar.

Ditengok pejabat tinggi menjadi mimpi Ahim. Beberapa waktu sebelumnya, Walikota Samarinda, Achmad Amins pernah berjanji mengunjungi SMPN 30. "Setelah ditunggu-tunggu, ternyata tidak juga datang", keluh Ahim. Ketika itu, usai berkunjung ke Lamin, Sang Walikota langsung meninggalkan Pampang. Oleh beberapa tokoh setempat, Achmad Amins diberi gelar adat.

Ahim berbicara tentang jalanan di Pampang. Dusun wisata ini terbagi menjadi dua: Pampang Muara atau Pampang Luar dan Pampang Dalam. Pampang Muara dihuni oleh masyarakat Bugis dan Jawa. Sementara Pampang Dalam merupakan wilayah orang Dayak Kenyah. "Tidak tahu, ya, mengapa yang dibikin halus hanya Pampang Luar. Sementara di Dalam...", ujar Ahim berhati-hati. Kenyataannya, jalan utama Pampang Muara memang beraspal rapat dan halus. Begitu memasuki wilayah Pampang Dalam, bebatuan dan lubang jalanan yang siap menampung air usai hujan terlihat di sana-sini. Sepasang patung blontang -tugu kayu berukir khas suku Dayak- menjadi batas antara Pampang Muara dengan Pampang Dalam.

***

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home