Duka
KETIKA kabar gempa mengguncang Bantul, Yogya Kota, Sleman, Klaten dan sekitarnya, saya sedang berada di Sendawar, Kutai Barat. Sekitar pukul 16.30 WITA, saya menelpon ibu di Magelang, Jawa Tengah. Beliau bilang tidak apa-apa, hanya dinding-dinding rumah gemetaran. Dua jam sebelumnya, adik saya yang bekerja di Jogja, memberitahu ibu dan ayah bahwa dirinya oke-oke saja. Rumah kontrakan adik saya di Jalan Gejayan hanya retak tipis.
Saya bersyukur, sekaligus berduka-cita. Bersyukur karena anggota keluarga yang tinggal tak terlalu jauh dari lokasi musibah, masih diberi umur panjang oleh si tuhan. Saya berduka-cita, sebab begitu banyak korban jiwa akibat bencana alam ini. Semoga, mereka tabah, sabar dan tetap semangat menghadapi percobaan ini.
Ya, ini adalah sebuah percobaan. Manusia dan setiap makhluk, tidak lebih sebagai kelinci percobaan sang pencipta. Harta dan benda yang secara susah payah dikais-kais dengan keringat dan engah napas, musnah dalam hitungan menit. Nyawa manusia, begitu tak berharga di mata tuhan. Tentu, tuhan puas melihat ribuan korban meregang nyawa. Bukan tidak mungkin, dzat yang dijuluki "sang maha pengasih dan penyayang" ini terkekeh-kekeh belaka ketika menyaksikan manusia-manusia ciptaannya kalang-kabut menyelamatkan diri dari reruntuhan rumah-rumah mereka. Apalah arti kemanusiaan di mata tuhan? Maaf, menurut saya, tuhan terlalu kejam untuk disebut "maha pengasih."
Di masa selanjutnya, peristiwa seperti ini, bukan mustahil, entah kapan, akan dialami juga oleh setiap kita, lingkungan kita, di mana pun, kapan pun. Barangsiapa peduli pada orang lain, niscaya orang lain juga akan memedulikannya. Meski, bukan karena itu kita membantu sesama...
Saya bersyukur, sekaligus berduka-cita. Bersyukur karena anggota keluarga yang tinggal tak terlalu jauh dari lokasi musibah, masih diberi umur panjang oleh si tuhan. Saya berduka-cita, sebab begitu banyak korban jiwa akibat bencana alam ini. Semoga, mereka tabah, sabar dan tetap semangat menghadapi percobaan ini.
Ya, ini adalah sebuah percobaan. Manusia dan setiap makhluk, tidak lebih sebagai kelinci percobaan sang pencipta. Harta dan benda yang secara susah payah dikais-kais dengan keringat dan engah napas, musnah dalam hitungan menit. Nyawa manusia, begitu tak berharga di mata tuhan. Tentu, tuhan puas melihat ribuan korban meregang nyawa. Bukan tidak mungkin, dzat yang dijuluki "sang maha pengasih dan penyayang" ini terkekeh-kekeh belaka ketika menyaksikan manusia-manusia ciptaannya kalang-kabut menyelamatkan diri dari reruntuhan rumah-rumah mereka. Apalah arti kemanusiaan di mata tuhan? Maaf, menurut saya, tuhan terlalu kejam untuk disebut "maha pengasih."
Di masa selanjutnya, peristiwa seperti ini, bukan mustahil, entah kapan, akan dialami juga oleh setiap kita, lingkungan kita, di mana pun, kapan pun. Barangsiapa peduli pada orang lain, niscaya orang lain juga akan memedulikannya. Meski, bukan karena itu kita membantu sesama...


1 Comments:
aku sempat menangis perih waktu liat beritanya di tv...di jogja aku sempat meninggalkan kenangan terindah dalam hidupku...
Post a Comment
<< Home